Posted by: issotyo | September 17, 2013

JPOS Ingenico client test

Snapshot untuk EDC Ingenico client test:

public static void main(String[] args) throws Exception {
try {
ISOMsg req = new ISOMsg();
BaseHeader baseHeader = new BaseHeader(ISOUtil.hex2byte("6000193000"));
req.setHeader(baseHeader);
req.setMTI("0200");
req.set("3", "100000");
req.set("4", "100");
req.set("24", "000");
req.set("41", ISOUtil.padright("123", 8, ' ')); // terminal id
req.set("42", ISOUtil.padright("3456", 15, ' ')); // card acceptor id
req.set("48", "20130910002911164000");
req.set("62","TEST.UNIT");

Logger logger = new Logger();
logger.addListener(new SimpleLogListener(System.out));
ISOPackager p = new GenericPackager("../cfg/packager/iso87binary_ingenico.xml");
p.setLogger(logger, "test");

ClientChannel channel = new PostChannel(p, null);
((LogSource) channel).setLogger(logger, "channel");
channel.setHost("127.0.0.1", 32001);
channel.connect();
channel.send(req);

} catch (Exception e) {
e.printStackTrace();
}

}

Advertisements
Posted by: issotyo | March 2, 2011

Sakit kuning dan menyusui

Seringkali, Air Susu Ibu (ASI) disalahkan sebagai salah satu penyebab timbulnya penyakit kuning atau jaundice pada bayi baru lahir. Akibat dari salah pengertian tersebut, seringkali seorang ibu disarankan untuk berhenti menyusui dan memberikan ASInya, dan bayi kemudian diberikan susu formula ataupun air glukosa. Berikut ini akan kita lihat, sebenarnya apa hubungan antara sakit kuning pada bayi baru lahir dengan kegiatan menyusui atau pemberian ASI?

Bayi baru lahir (BBL) yang mengalami sakit kuning atau jaundice biasanya disebabkan oleh salah satu dari 4 hal dibawah ini:

  1. Physiologic Jaundice, atau sakit kuning yang umumnya memang dialami oleh banyak sekali BBL (lebih dari 50%), termasuk BBL prematur dan BBL yang ibunya menderita diabetes. Kondisi ini dimulai pada usia bayi 2-3 hari, dan biasanya berlangsung selama 1-2 minggu. Sesungguhnya penyebabnya adalah simpel, yaitu BBL mempunyai lebih banyak sel-sel darah merah yang terkandung dalam 1 ml darah dibandingkan dengan orang dewasa. Ketika sel-sel darah merah yang terdapat dalam tubuh BBL tersebut mati (suatu proses yang normal dialami oleh manusia), maka hemaglobin yang terkandung didalamnya mulai pecah. Bilirubin, yang larut dalam lemak (fat soluble), merupakan salah satu komponen pecahan hemaglobin tersebut, dan harus dibikin larut dalam air (water soluble) untuk dapat dibuang dari tubuh bayi melalui BAB-nya. Hati atau lever bayi bertugas untuk menjadikan Bilirubin larut dalam air. Normalnya, hati atau lever bayi seringkali belum matang atau dapat berfungsi secara sempurna ketika dia baru lahir, sehingga Bilirubin tersebut tidak dapat terbuang semua dari tubuh bayi. Kuning seperti ini adalah normal, dan sering sekali dijumpai pada BBL. Sebenarnya penangannya hanya 1, yaitu HARUS SERING MINUM ASI, minimal 8-12 kali dalam 24 jam untuk membantu pembuangan Bilirubin melalui BAB bayi. Kolostrum, yaitu ASI yang pertama kali keluar setelah persalinan dan memang jumlahnya sangat sedikit sehingga harus sering-sering diberikan, mengandung zat laksatif, sehingga bayi cenderung lebih sering BAB dan Bilirubin yang terdapat dalam BAB-nya dapat dikeluarkan.
  2. Pathologic Jaundice, seperti Blood Group Incompatibility yaitu sakit kuning yang disebabkan oleh ketidakcocokan rhesus (Rh) atau golongan darah antara ibu dan bayi. Dalam kondisi seperti ini, jumlah sel-sel darah merah yang mati melebihi jumlah rata-rata, sehingga mengakibatkan terbentuknya lebih banyak lagi Bilirubin — atau dalam hal ketidakcocokan golongan darah, kandangkala golongan darah ibu yang berbeda dapat membentuk antibodi yang justru bersifat menghancurkan sel-sel darah merah BBL. Sekarang ini, jarang sekali ditemukan kasus Rh incompatability (yang biasanya juga disertai oleh permasalahan seputar metabolisme bayi, gagal jantung dan anemia), yang mungkin lebih sering adalah kasus ketidakcocokan golongan darah antara ibu dan bayi. Beberapa penyebab Pathologic Jaundice lainnya adalah:
    (a) gangguan metabolik seperti galaktosemia,
    (b) gangguan medis seperti kekurangan glukosa-6-fosfat,
    (c) kelenjar tiroid yang kurang aktif,
    (d) infeksi saluran kencing, dan
    (e) gangguan fungsi lever.
    Selain dilakukan penanganan dan pengobatan penyakit yang menyebabkan jenis jaundice tersebut (bila diperlukan), BBL juga HARUS LEBIH SERING MINUM ASI sehingga Bilirubin dapat terbuang melalui BAB-nya.
  3. Breastfeeding Jaundice, disebabkan ketika Bilirubin yang telah laut dalam air (water soluble) masuk ke dalam usus untuk dibuang melalui BAB, ternyata ada sebagian yang akan terserap kembali oleh tubuh setelah oleh dinding usus diubah lagi komposisinya menjadi larut dalam lemak (fat soluble). Semakin banyak BAB yang berhasil mengeluarkan Bilirubin, maka akan semakin sedikit yang terserap kembali oleh tubuh bayi. Oleh karena itu, PENTING SEKALI bagi BBL untuk MINUM ASI dalam bentuk KOLOSTRUM yang banyak mengandung zat laksatif sehingga Bilirubin dapat dikeluarkan secara maksimal sehingga sedikit sekali yang akan terserap kembali ke dalam tubuhnya. Bayi yang TIDAK SERING MINUM ASI dapat mengalami gejala ini, maka penting sekali untuk sering-sering menyusui BBL (minimal 8-12x dalam 24 jam), dan memastikan bahwa BAYI MINUM ASI dan tidak hanya ngempeng pada puting/payudara ibu. Makanya disebut Breastfeeding Jaundice, karena umumnya disebabkan oleh KURANG MINUM ASI.
  4. Conjugated Hyperbilirubinemia, kalau ketiga kondisi diatas adalah yang “normal” atau “biasa” dijumpai pada BBL, maka yang ini adalah “tidak normal” dan seringkali mempunyai resiko yang serius. Penyebabnya adalah bayi lahir dengan kondisi hati atau lever yang rusak, atau saluran yang menghubungkan lever dengan usus bayi tersumbat, sehingga Bilirubin yang telah larut dalam air (water soluble) tidak dapat masuk ke dalam usus dan akan masuk kembali ke dalam darah bayi. Salah satu gejalanya adalah warna BAK bayi kecoklat-coklatan, tidak bening seperti BAK bayi yang minum ASI dengan baik. Hal ini disebabkan karena Bilirubin yang sudah larut dalam air (water soluble) tidak dapat terbuang melalui BAB, tetapi justru melalui BAK. Bayi dengan tingkat Conjugated Bilirubin yang sangat tinggi perlu segera diteliti penyebabnya, apalagi jika disertai gejala BAK berwarna kecoklatan. Penanganan secara tepat dapat dilakukan apabila sudah ditangani sejak awal. Kondisi ini juga TIDAK MENGHALANGI bayi untuk diberikan dan minum ASI.

Seperti bisa anda baca sendiri, untuk kasus (1) sampai (3), hubungan antara sakit kuning dengan ASI hanya 1: BBL sedikit minum ASI atau bahkan tidak minum ASI sama sekali justru memperparah kondisi sakit kuning-nya.

Mengapa BBL sampai sedikit minum ASI atau bahkan tidak minum ASI sama sekali?

  1. BBL sudah diberikan asupan prelaktal, yaitu cairan/makanan lainnya (susu formula, air gula) sebelum mulai menyusu;
  2. BBL tidak diberikan kesempatan untuk meyusu dengan sering, minimal 8-12x dalam 24 jam; dan
  3. BBL sering menyusu tetapi TIDAK MINUM ASI alias HANYA NGEMPENG saja pada puting/payudara ibu. Hal ini disebabkan karena posisi badan bayi dan pelekatan mulut bayi pada payudara ibu belum tepat, sehingga bayi mengalami kesulitan untuk mengeluarkan ASI/KOLOSTRUM dari payudara ibu.

Jadi, dalam hal ini, justru TIDAK PERLU untuk berhenti menyusui dan minum ASI untuk mengetahui apakah kuningnya disebabkan oleh ASI, karena setelah kita baca, kuningnya justru akan menjadi semakin parah apabila KURANG MINUM ASI.

Yang terakhir sering disebut-sebut adalah: Breastmilk Jaundice. Kondisi ini biasanya timbul setelah bayi berusia sekitar 1 minggu dan memuncak pada hari ke-10 sampai ke-21, namun dapat berlangsung selama 2-3 bulan. Selama kurun waktu tersebut, walaupun bayi banyak minum ASI, pertambahan BB-nya bagus, BAB sering, BAK berwarna bening, bayi sehat, aktif, lincah dan responsif, namun Bilirubin-nya tetap tinggi dan bayi tetap kelihatan kuning. Belum diketahui secara pasti apa yang menyebaban kondisi ini, namun kalangan medis mencurigai bahwa Beta Glucuronidase, suatu zat yang terdapat dalam ASI mengurangi kemampuan lever bayi untuk mengatasi kadar Bilirubin dalam tubuhnya. Breastmilk Jaundice adalah normal. Tidak perlu untuk berhenti menyusui dalam rangka melakukan “diagnosa” atas kondisi ini. Apabila bayi dalam kondisi sehat seperti disebutkan diatas, maka tidak ada alasan untuk berhenti menyusui dan memberikan ASI.

Konsultasikan dengan DSA bayi mengenai kondisi kuning-nya, masuk ke golongan manakah? Pastikan bahwa CARA MENYUSUI SUDAH TEPAT dan BAYI MINUM ASI sesering mungkin.

diterjemahkan secara bebas dari: www.drgreene.com, dan “The Ultimate Breastfeeding Book of Answers“, Jack Newman, MD and Teresa Pitman, Three Rivers Press, 2006.

Ref: aimi-asi.org

Posted by: issotyo | March 2, 2011

Bayi kuning

Memang, jika cepat tertangani, kuning pada bayi tak perlu dicemaskan. Apa saja yang harus kita waspadai?

“Bayinya belum bisa pulang karena kuning.” Begitu, kan, yang sering kita dengar tentang bayi yang baru lahir.

Bayi kuning, ada dua macam. Yaitu yang faali (fisiologis) dan patologis. Yang patologis adalah yang dapat menganggu tumbuh kembang bayi di kemudian hari. “Yang faali disebut juga kuning yang normal. Umumnya terjadi di hari kedua atau ketiga setelah kelahiran hingga 7 atau 14 hari. Walaupun secara faali, tetapi perlu diwaspadai. Karena kuning yang faali mungkin mempunyai latar belakang patologis,” ungkap Prof. Dr. dr. Nartono Kadri, Sp.A(K) , dari Bag. Perinatologi, Ilmu Kesehatan Anak Fak. Kedokteran UI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Selain itu, bayi yang minum ASI dapat juga terlihat kuning pada minggu pertama dan kedua, yang berangsur-angsur akan hilang sendiri. “Ini gejala biasa. Di dalam ASI ada komponen yang mempengaruhi timbulnya kuning pada bayi. Tidak berbahaya, kok,” jelas Nartono. Kendati demikian, lanjutnya, orangtua harus tetap waspada. Terutama kalau si bayi sedang dalam keadaan sakit yang berkaitan dengan acidosis (penyakit yang berhubungan dengan menurunnya kadar pH darah). Misalnya, sesak napas atau mencret berat. “Sebab, kadar bilirubin bebas bisa meningkat.”

Nah, berikut ini sejumlah hal mencurigakan yang harus diwaspadai.

Lalu apa yang harus dilakukan jika hal itu terjadi? “Segera bawa ke dokter!” pesan Nartono.

PENYEBAB

Cara termudah untuk mendeteksi bayi menderita kuning atau tidak, sebetulnya tak terlampau sulit. “Lihat di bagian putih mata bayi saat ia menyusu. Kalau kuning, akan terlihat jelas di matanya!”

Kuning pada bayi timbul karena adanya timbunan bilirubin (zat/komponen yang berasal dari pemecahan hemoglobin dalam sel darah merah) di bawah kulit. Sebab itulah kulit si bayi terlihat kuning.

Pada saat masih dalam kandungan, janin membutuhkan sel darah merah yang sangat banyak karena paru-parunya belum berfungsi. Nah, sel darah merahlah yang bertugas mengangkut oksigen dan nutrien dari ibu ke bayi melalui plasenta. “Sesudah ia lahir, parunya sudah berfungsi, sehingga sel darah merah ini tidak dibutuhkan lagi dan dihancurkan. Salah satu hasil pemecahan itu adalah bilirubin.”

Bilirubin alias pecahan hemoglobin ini pun bermacam-macam: indirect, direct , dan bebas. Yang indirect atau yang belum diolah, yaitu bilirubin yang terikat albumin sebagai zat pengangkut, akan dibawa ke hati untuk diproses menjadi bilirubin direct . Bilirubin direct ini akhirnya disimpan di kantong empedu.

Kadang tidak semua hasil pemecahan hemoglobin ini bisa diikat oleh albumin dan dibawa ke hati. Sebagian tidak terangkut dan disebut bilirubin bebas. Justru bilirubin inilah yang berbahaya. “Karena ia bisa gentayangan ke mana-mana. Terutama kalau ia masuk ke otak, tak bisa dilepas lagi.” Jika sampai masuk ke otak, “Akan menimbulkan penyakit yang disebut kern ikterus atau timbunan bilirubin di dasar otak,” jelas Nartono.

Namun oleh suatu keadaan tertentu, bilirubin indirect pun bisa pecah lagi menjadi bilirubin bebas. Yaitu jika si anak dalam keadaan sakit atau mencret, yang menyebabkan ia kehilangan banyak cairan. Kekurangan cairan (juga oksigen) akan mengakibatkan lepasnya albumin sehingga ia menjadi bilirubin bebas yang membahayakan.

Lantas di mana terjadinya pemecahan sel darah merah? Ia bisa terjadi karena adanya tabrakan-tabrakan di saluran pembuluh darah, di sel-sel hati, atau di sel limfa. Kadang pemecahan sel darah merah terjadi sangat berlebihan sehingga meningkatkan kadar bilirubin. Ini biasanya disebabkan beberapa hal:

Pada ketidakcocokan golongan darah, misalnya bila si ibu berdarah O, sedangkan si bayi berdarah A atau B. “Pada saat masih dalam kandungan, darah ibu dan janin akan saling mengalir lewat plasenta. Kalau darah si janin tidak cocok dengan darah ibunya, maka si ibu akan membentuk zat antibodinya (zat penangkis). Zat ini sedikit banyak akan mengalir lagi ke tubuh si janin melalui plasenta. Akibatnya, zat antibodi ini akan menghancurkan sel darah merah si bayi, sehingga meningkatkan kadar bilirubinnya.”

Sedangkan untuk ketidakcocokan golongan darah akibat rhesus, biasanya terjadi bila ibu golongan darah rhesus negatip dan janin rhesus positip.

2. Karena obat-obatan

Ada beberapa macam obat, misalnya yang mengandung sulfa, bisa menghancurkan sel darah merah. Karena itu, berhati-hatilah memberi obat pada bayi. Konsultasikan pada dokter sebelumnya.

3. Karena infeksi

Bisa infeksi saat bayi dalam kandungan atau infeksi saat di jalan lahir. Misalnya jalan lahir ibunya kotor. Atau infeksi sesudah lahir, semisal karena alat-alat bayi tidak steril sehingga racunnya menghancurkan sel darah merah.

Selain karena pemecahan sel darah merah yang berlebihan, peningkatan kadar bilirubin bisa juga berasal dari penyumbatan. Yaitu bila saluran empedunya tersumbat, sehingga bilirubinnya tidak bisa dikeluarkan. Atau juga bila hatinya membengkak (hepatitis), sehingga pipa-pipanya tersumbat. Umumnya kuning yang disebabkan oleh penyumbatan terlihat sesudah minggu kedua atau lebih.

Bagaimana membedakan kuning pada bayi karena bilirubin yang indirect (pemecahan yang belebihan) atau direct (penyumbatan)? “Lihat dari kotorannya. Bila kotorannya kuning, biasanya karena pemecahan. Tapi yang disebabkan penyumbatan, kotorannya akan terlihat putih seperti dempul. Hal ini karena empedunya tidak bisa masuk usus, sehingga kotoran tidak bisa diolah dan menyebabkan berwarna putih.”

AKIBAT DAN TERAPI

Untuk bilirubin yang berasal dari pemecahan yang berlebihan, asalkan cepat ditangani biasanya dapat cepat sembuh. “Jika terlambat ditangani, bisa menjadi kern ikterus atau meninggal.” Bayi pengidap kern ikterus, lanjut Nartono, akan mengalami kelainan perkembangan. Yakni berupa gangguan susunan saraf pusat atau panca indra. Entah itu berupa kelainan motorik, gangguan perkembangan mental, tuli, lambat bicara, ataupun susah belajar. “Tergantung berapa luas dan berapa banyak timbunannya. Serta di bagian otak sebelah mana ia tertimbun.”

Pada bayi dengan kasus seperti ini, salah satu tindakan yang dilakukan adalah memberinya cukup cairan. “Bila kadar bilirubinnya masih ringan, cukup dijaga agar cairan tubuh tidak berkurang. Tiga atau empat jam sekali, bayi harus diberi susu.”

Terapi lain adalah yang disebut sinar biru (blue light therapy) . “Bisa juga dengan bantuan sinar matahari. Tapi jangan dijemur secara langsung di bawah matahari. Cukup asal terkena sinarnya saja.”

Namun jika kadar kuning tinggi sekali dan amat cepat kenaikannya, dokter akan melakukan transfusi tukar. Darah bayi yang sudah mengandung bilirubin dikeluarkan, diganti dengan darah baru.

Sedangkan untuk bilirubin yang berasal dari penyumbatan, bila tidak segera ditangani akan menyebabkan kerusakan hati. “Hatinya bisa mengecil (sirosis) dan mengeras. Untuk ini, dokter akan membedah tempat yang tersumbat tadi,” jelas Nartono.

Ia juga mengingatkan, untuk bayi kuning yang disebabkan kekurangan enzym yang disebut G-6-PD, sebaiknya tidak menggunakan kapur barus untuk baju-baju bayi. “Memang tidak semua bayi akan menjadi kuning bila pakaiannya terkena kapur barus. Tapi dalam kasus bayi yang G-6-PD ini, enzym di dalam darah merah si bayi kurang, sehingga sel darah merah mudah pecah dan menjadi bilirubin karena dampak kapur barus.”

Indah Mulatsih/nakita

Tindakan Pencegahan

* Cari sebab-sebabnya. Jika kuning karena fisiologis, tak perlu tindakan karena akan hilang sendiri. Jika terjadi karena patologis, harus diteliti oleh dokter lebih lanjut.
* Perhatikan dan tandai kapan munculnya kuning, kecepatan peningkatan kuningnya, serta lamanya. Jika sudah menjumpai hal-hal mencurigakan seperti ini, segera bawa ke dokter.
* Jangan memberi sembarang obat-obatan pada bayi.
* Hindarkan bayi dari infeksi. Bayi juga sangat rentan, sebab itu usahakan selalu bersih dan tidak tercemar sesuatu dari luar.
* Jangan biarkan bayi “puasa” terlalu lama. Berikan cairan tiap 3-4 jam.
* Sebaiknya hindari pemakaian kamper/kapur barus saat menyimpan baju-baju bayi.

Ref: TabloidNova

Posted by: issotyo | December 12, 2010

Testivus On Test Coverage

Waktu googling untuk mencari idea buat implementasi Code Coverage nemu “Testivus On Test Coverage“. Sepintas dibaca memang lucu sekali, tapi di dunia nyata memang kejadiannya seperti itu. It’s all about dealing with people. 😉

Testivus On Test Coverage

Early one morning, a programmer asked the great master:

“I am ready to write some unit tests. What code coverage should I aim for?”

The great master replied:

“Don’t worry about coverage, just write some good tests.”

The programmer smiled, bowed, and left.

Later that day, a second programmer asked the same question.

The great master pointed at a pot of boiling water and said:

“How many grains of rice should put in that pot?”

The programmer, looking puzzled, replied:

“How can I possibly tell you? It depends on how many people you need to feed, how hungry they are, what other food you are serving, how much rice you have available, and so on.”

“Exactly,” said the great master.

The second programmer smiled, bowed, and left.

Toward the end of the day, a third programmer came and asked the same question about code coverage.

“Eighty percent and no less!” Replied the master in a stern voice, pounding his fist on the table.

The third programmer smiled, bowed, and left.

After this last reply, a young apprentice approached the great master:

“Great master, today I overheard you answer the same question about code coverage with three different answers. Why?”

The great master stood up from his chair:

“Come get some fresh tea with me and let’s talk about it.”

After they filled their cups with smoking hot green tea, the great master began to answer:

“The first programmer is new and just getting started with testing. Right now he has a lot of code and no tests. He has a long way to go; focusing on code coverage at this time would be depressing and quite useless. He’s better off just getting used to writing and running some tests. He can worry about coverage later.”

“The second programmer, on the other hand, is quite experience both at programming and testing. When I replied by asking her how many grains of rice I should put in a pot, I helped her realize that the amount of testing necessary depends on a number of factors, and she knows those factors better than I do – it’s her code after all. There is no single, simple, answer, and she’s smart enough to handle the truth and work with that.”

“I see,” said the young apprentice, “but if there is no single simple answer, then why did you answer the third programmer ‘Eighty percent and no less’?”

The great master laughed so hard and loud that his belly, evidence that he drank more than just green tea, flopped up and down.

“The third programmer wants only simple answers – even when there are no simple answers … and then does not follow them anyway.”

The young apprentice and the grizzled great master finished drinking their tea in contemplative silence.

Ref:
http://www.artima.com/forums/flat.jsp?forum=106&thread=204677

Update:

Untuk humor lainnya bisa dibaca disini :
http://www.artima.com/weblogs/viewpost.jsp?thread=203994

Hari ini baru saja baca koran Republika, tentang pengelolaan sampah. Memang masalah yang rumit, sayangnya dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Yah, tidak boleh mengeluh, harus jadi pembawa solusi hehehe. Baca-baca solusi waste management, sambil menunggu teknologi nano engineering yang sanggup merekonstuksi sampah jadi MPG(Multi Purpose Good), yang sayangnya baru terwujud di game Outpost, SimCity dan Civilization .
Salah satu yang akan diadopsi di Indonesia adalah pengelolaan sampah dengan menggunakan Mechanical Biological Treatment(MBT). Dilihat sekilas, metode ini memanfaatkan penggunaan sampah seefisien mungkin, yaitu dibagi menjadi dua tahap:

  1. Pemilahan sampah: Bahan yang masih berguna dipilah dan disisihkan, contoh: logam, plastik, gelas. Dan umumnya dari proses ini juga bisa dihasilkan bahan bakar dari bahan baku sampah/RDF(Refuse Derived Fuel). Bahan baku RDF umumnya dari plastik atau bahan organik lainnya.
  2. Penanganan sampah biologis: Penanganannya memisah sampah biodegredable untuk memproduksi biogas dan pupuk.

Kalau ini bisa diterapkan se-efisien dan se-efektif mungkin disemua daerah…WOW!

Ref: http://en.wikipedia.org/wiki/Mechanical_biological_treatment

Posted by: issotyo | June 16, 2010

Be Persistent! A Whack on the Side of the Head…

  • Be Dissatisfied
  • Map Out Your Plans
  • Take A Whack At It
  • Get Rid of Excuses
  • Have Something at Stake
  • Get Support
  • Sell, Sell, Sell
  • Be Courageous
  • Give Yourself a Deadline
  • Fight for It
  • Be Persistent! …
Have you done it ?

Ref:
A Whack on the Side of the Head: How You Can Be More Creative (Roger Von Oech)

Posted by: issotyo | June 16, 2010

Map2Map mapper menggunakan dozer

Dalam mengembangkan aplikasi java, kadang butuh untuk mapping dari satu object ke object lain. Untuk kebutuhan itu biasanya menggunakan apache common BeanUtils. Namun sekarang ada kebutuhan lain, yaitu mappingnya bisa dirubah tanpa perlu kompile class. Untuk itu, keturunan Map, yaitu HashMap digunakan sebagai objectnya, lalu alternatif dari beanutils digunakan Dozer . Fitur Dozer yang digunakan adalah mapping object to object menggunakan XML.
Sayangnya document Dozer untuk mapping dari Map2Map tidak jelas, dan tutorial di internet sangat minim. Dari hasil coba-coba akhirnya ada solusinya walaupun belum sempurna.

1. XML config mapping.xml:

<?xml version=”1.0″ encoding=”UTF-8″?>
<mappings xmlns=”http://dozer.sourceforge.net&#8221;
          xmlns:xsi=”http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance&#8221;
          xsi:schemaLocation=”http://dozer.sourceforge.net
          http://dozer.sourceforge.net/schema/beanmapping.xsd”&gt;
   
    <mapping map-id=”prime”>
        <class-a>dozerlearn.CustomMapPrime</class-a>
        <class-b>dozerlearn.CustomMap</class-b>
        <field >
            <a key=”test1″>standardMap</a>
            <b key=”test11″>standardMap</b>
        </field>
        <field >
            <a key=”test1″>standardMap</a>
            <b key=”test12″>standardMap</b>
        </field>
        <field >
            <a key=”test2″>standardMap</a>
            <b key=”test21″>standardMap</b>
        </field>
        <field >
            <a key=”test3″>standardMap</a>
            <b key=”test31″>standardMap</b>
        </field>
    </mapping>
</mappings>

2. Buat CustomMap class untuk menampung hashmap:

import java.util.Map;

package dozerlearn;

import java.util.Map;

/**
 * @author dragon
 */
public class CustomMap {
  private Map standardMap;
  private Map standardMapWithHint;

  public Map getStandardMap() {
    return standardMap;
  }

  public void setStandardMap(Map standardMap) {
    this.standardMap = standardMap;
  }

  public Map getStandardMapWithHint() {
    return standardMapWithHint;
  }
}

3. Aplikasi uji cobanya:

package dozerlearn;

import java.util.ArrayList;
import java.util.HashMap;
import java.util.List;
import org.dozer.DozerBeanMapper;

/**
 * @author dragon
 */
public class Main {

    public static void main(String[] args) {

        List myMappingFiles = new ArrayList();
        myMappingFiles.add(“mapping.xml”);

        DozerBeanMapper mapper = new DozerBeanMapper();
        mapper.setMappingFiles(myMappingFiles);

        CustomMap sourceObject = new CustomMap();
        HashMap hm = new HashMap();
        hm.put(“test1″,”test11”);
        hm.put(“test2″,”test21”);
        hm.put(“test3″,”test31”);
        sourceObject.setStandardMap(hm);
        System.out.println(“before :”+sourceObject.getStandardMap());
        CustomMap destObject = mapper.map(sourceObject, CustomMap.class,””);
        System.out.println(“result:”+destObject.getStandardMap());

    }
}

Hasil outputnya:

before :{test1=test11, test2=test21, test3=test31}
2010-06-16 10:55:39,509 Using the following xml files to load custom mappings for the bean mapper instance: [mapping.xml]

2010-06-16 10:55:39,790 Successfully loaded custom xml mappings from URL: [file:/D:/sourcecode/learn/nb/DozerLearn/src/mapping.xml]
2010-06-16 10:55:39,950 MAPPED: CustomMapPrime.standardMap –> CustomMap.standardMap    VALUES: test11 –> test11    MAPID: prime
2010-06-16 10:55:39,960 MAPPED: CustomMapPrime.standardMap –> CustomMap.standardMap    VALUES: test11 –> test11    MAPID: prime
2010-06-16 10:55:39,960 MAPPED: CustomMapPrime.standardMap –> CustomMap.standardMap    VALUES: test21 –> test21    MAPID: prime
2010-06-16 10:55:39,960 MAPPED: CustomMapPrime.standardMap –> CustomMap.standardMap    VALUES: test31 –> test31    MAPID: prime
result:{test12=test11, test11=test11, test31=test31, test21=test21}

Satu hal yang saya suka dari mapping si Dozer ini adalah dari satu key Map bisa dimapping ke beberapa key Map tujuan, seperti contoh diatas yaitu test1 dimapping ke test11 dan test12.

Semoga membantu dan selamat berDozer ria!

Posted by: issotyo | June 4, 2010

Pomodoro Technique

Pomodoro Timer

The Pomodoro Technique is a time management method developed by Francesco Cirillo in the late 1980s.[1] The technique uses a timer to break down periods of work into 25-minute intervals called ‘pomodoros’ (from the Italian word for ‘tomato’) separated by breaks. Closely related to concepts such as timeboxing and iterative and incremental development used in software design, the method has been adopted in pair programming contexts.[2]

The method is based on the idea that frequent breaks can improve mental agility. [3][4] and seeks to provide an effective response to time as an anxiety-provoking state referred to as temporal “becoming” in the writings of Henri Bergson and Eugene Minkowski.

There are five basic steps to implementing the technique:

  1. decide on the task to be done
  2. set the pomodoro (timer) to 25 minutes
  3. work on the task until the timer rings; record with an x
  4. take a short break (5 minutes)
  5. every four “pomodoros” take a longer break (15–20 minutes)

Ref:
http://en.wikipedia.org/wiki/Pomodoro_Technique

Posted by: issotyo | April 12, 2010

Two Things Not to Worry About

In my life, I have found there are two things about which I should never worry. First, I shouldn’t worry about the things I can’t change. If I can’t change them, worry is certainly most foolish and useless. Second, I shouldn’t worry about the things I can change. If I can change them, then taking action will accomplish far more than wasting my energies in worry. Besides it is my belief that, 9 times out of 10, worrying about something does more danger than the thing itself. Give worry its rightful place – out of your life.

(anonym)

Posted by: issotyo | February 4, 2010

Lenovo y450… laptop baru problem baru

Baru ganti laptop dari toshiba M300 (bye bye my toshiba 😀 ) ke Lenovo Y450. Overall, semua terdeteksi dengan baik di ubuntu karmic. Tapi seperti biasa, lingkungan baru, tantangan baru :

  1. Bluetooth & Wireless tidak terdeteksi:
    Jangan lupa untuk menghidupkan bluetooth dan wirelless di windows terlebih dahulu. Setelah itu karmic bisa mendeteksi dengan baik.
  2. Function key untuk screen brightness & sound
    Sudah ada yang punya solusinya untuk Gnome, tinggal konvert ala KDE 4.
  3. Sound
    Awalnya terdeteksi sempurna. Entah kenapa setelah install banyak package, sound jadi aneh. Di earphone berjalan dengan baik, tapi laptop speaker jadi kecil sekali. Setting di alsamixer tidak ada pengaruhnya.

Untuk sementara itu dulu yang baru ketemu 🙂

Older Posts »

Categories